BEIJING, TIONGKOK – Dunia kedokteran dan bioteknologi menorehkan sebuah catatan sejarah monumental. Tim ilmuwan dan ahli bedah di Tiongkok mengumumkan keberhasilan pertama di dunia dalam mentransplantasikan paru-paru dari babi yang telah direkayasa secara genetika ke resipien manusia. Organ tersebut dilaporkan berfungsi normal, melakukan pertukaran oksigen, dan tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan hiperakut selama masa observasi.
Dari informasi yang didapatkan akazed, prosedur ini dilakukan pada resipien yang telah dinyatakan mati batang otak, pencapaian ini merupakan lompatan kuantum dalam bidang xenotransplantasi—transplantasi organ antarspesies. Keberhasilan ini membuka pintu harapan yang sangat besar untuk mengatasi krisis donor organ global yang merenggut nyawa jutaan orang setiap tahunnya.
Krisis Donor Global: Alasan di Balik Perlombaan Xenotransplantasi
Untuk memahami betapa pentingnya terobosan ini, kita harus melihat data yang suram. Di seluruh dunia, daftar tunggu untuk transplantasi organ—jantung, ginjal, hati, dan paru-paru—jauh lebih panjang daripada ketersediaan donor manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa hanya sebagian kecil dari kebutuhan organ global yang terpenuhi setiap tahunnya.
Data yang Mendorong Inovasi
Di negara maju seperti Amerika Serikat, belasan orang meninggal setiap hari sambil menunggu organ yang tak kunjung datang. Paru-paru adalah salah satu organ yang paling sulit didapatkan karena kerentanannya terhadap kerusakan. Kondisi inilah yang mendorong para ilmuwan selama puluhan tahun untuk mencari alternatif radikal: memanfaatkan organ dari hewan. Babi menjadi kandidat utama karena ukuran organ dan fisiologinya yang memiliki banyak kemiripan dengan manusia.
Terobosan di Tiongkok: Menganalisis Momen Bersejarah Pembedahan
Keberhasilan tim Tiongkok bukanlah keajaiban sesaat, melainkan puncak dari riset rekayasa genetika yang sangat canggih dan persiapan bedah yang teliti. Operasi ini dilakukan di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Angkatan Udara di Xi’an.
Sang Resipien: Etika dan Sains dalam Tubuh yang Telah Tiada
Prosedur ini dilakukan pada pasien yang mengalami cedera otak parah dan telah dinyatakan mati batang otak. Secara medis dan hukum, pasien tersebut telah meninggal dunia. Namun, dengan izin penuh dari keluarga, fungsi tubuhnya dipertahankan oleh mesin ventilator untuk tujuan penelitian. Model ini dianggap sebagai langkah etis yang krusial sebelum melakukan uji coba pada pasien hidup, memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari respons biologis secara langsung tanpa membahayakan nyawa.
Donor Spesial: Babi yang Direkayasa Secara Genetika
Kunci utama dari keberhasilan ini terletak pada donornya: seekor babi yang bukan babi biasa. Menggunakan teknologi penyuntingan gen presisi tinggi seperti CRISPR-Cas9, para ilmuwan melakukan beberapa modifikasi genetika krusial:
- “Menghapus” Gen Babi: Gen yang memproduksi molekul gula bernama alpha-gal dihilangkan. Molekul ini adalah penyebab utama penolakan hiperakut, di mana sistem kekebalan manusia akan langsung menyerang organ babi dalam hitungan menit.
- “Menambahkan” Gen Manusia: Beberapa gen manusia dimasukkan ke dalam genom babi. Gen-gen ini berfungsi sebagai “penenang” sistem kekebalan, memproduksi protein yang memberi sinyal kepada tubuh resipien untuk tidak menyerang organ baru tersebut.
Observasi Pasca-Operasi: Paru-paru Bekerja Sesuai Harapan
Setelah ditransplantasikan, paru-paru babi tersebut segera “merah muda” karena dialiri darah dan mulai berfungsi. Selama periode observasi, organ tersebut mampu melakukan ventilasi (mengembang dan mengempis) dan mentransfer oksigen ke dalam aliran darah resipien. Ini adalah bukti konsep paling kuat hingga saat ini bahwa paru-paru hasil xenotransplantasi dapat berfungsi secara fisiologis di dalam tubuh manusia.
Konteks Global: Menempatkan Prestasi Tiongkok di Peta Sains Dunia
Pencapaian ini tidak berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari gelombang kemajuan xenotransplantasi global yang semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Menyusul Jejak Jantung dan Ginjal
Sebelumnya, dunia menyaksikan terobosan dari para peneliti di Amerika Serikat. Tim dari University of Maryland mentransplantasikan jantung babi ke dua pasien hidup (meskipun keduanya akhirnya meninggal setelah beberapa bulan), sementara tim dari NYU Langone Health dan University of Alabama at Birmingham berhasil mentransplantasikan ginjal babi ke resipien mati batang otak.
Paru-paru: Rintangan Tersulit dalam Xenotransplantasi
Namun, transplantasi paru-paru dianggap sebagai tantangan yang jauh lebih sulit. Tidak seperti jantung atau ginjal yang berada di dalam lingkungan steril tubuh, paru-paru terus-menerus terpapar udara dari luar, membuatnya sangat rentan terhadap infeksi. Strukturnya yang rumit dan rapuh juga lebih sensitif terhadap penolakan dan peradangan. Keberhasilan tim Tiongkok dalam menjaga fungsi paru-paru ini menunjukkan tingkat kemajuan yang luar biasa.
Jalan di Depan: Tantangan Ilmiah, Etika, dan Harapan di Masa Depan
Meskipun euforia melanda komunitas ilmiah, jalan menuju aplikasi klinis rutin masih panjang dan penuh rintangan.
Pertarungan Jangka Panjang Melawan Penolakan dan Virus
Mengatasi penolakan hiperakut adalah langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah penolakan kronis yang bisa terjadi dalam beberapa minggu atau bulan. Selain itu, ada risiko teoritis penularan virus endogen babi (Porcine Endogenous Retroviruses atau PERVs) ke manusia, meskipun penelitian terbaru menunjukkan risiko ini dapat dimitigasi.
Kompas Etis dan Kesejahteraan Hewan
Debat etis akan terus berlanjut, terutama seputar kesejahteraan hewan yang dibiakkan khusus untuk diambil organnya. Diperlukan regulasi yang ketat untuk memastikan proses ini dilakukan secara manusiawi.
Terlepas dari tantangan tersebut, terobosan ini adalah secercah cahaya yang sangat terang. Bagi jutaan pasien yang hidupnya bergantung pada mesin atau waktu, pencapaian ini menandakan bahwa solusi yang dulu hanya ada di fiksi ilmiah, kini selangkah lebih dekat menjadi kenyataan medis yang menyelamatkan nyawa.